MENGENAL EPILEPSI



Rounded Rectangle:  MENGENAL EPILEPSI

Penulis : dr. Hastari Soekardi, Sp.S (KSM Saraf – RSUP Fatmawati) 

Epilepsi (definisi konseptual) adalah Kelainan otak yang ditandai kecenderungan untuk menimbulkan bangkitan epileptik yang terus menerus, dengan konsekuensi neurobiologis, kognitif, psikologis, sosial (minimal 1 bangkitan epileptik). Bangkitan epileptik, terjadinya tanda/ gejala yang bersifat sesaat akibat aktivitas neuronal yang abnormal dan berlebihan diotak. Sedangkan definisi operasional Epilepsi adalah suatu penyakit otak yang ditandai dengan kondisi/ gejala: minimal 2 bangkitan tanpa provokasi/ bangkitan refleks dengan jarak antar bangkitan pertama dan kedua > 24 jam, satu bangkitan tanpa provokasi/ bangkitan refleks kemungkinan terjadinya bangkitan berulang dalam 10 hari kedepan (minimal 60 %) bila terdapat 2 bangkitan tanpa provokasi/ bangkitan reflex (misalkan bangkitan pertama yang terjadi 1 bulan setelah kejadian Stroke, bangkitan perftama pada anak yang disertai lesi struktural dan epileptiform discharges), sudah ditegakkan diagnosis sindrom epilepsi. Penyebab epilepsi : primer 77 % idiopatik atau kriptogenik, simtomatik 23 %, penyakit pembuluh darah, neoplasma sistem saraf pusat, kelainan kongenital sistem saraf pusat, trauma, infeksi sistem saraf pusat, ensefalopati iskemik, asfiksia lahir, perdarahan intraventrikuler, piridoksin depensi, dan lain-lain.

Diduga terdapat sekitar 50 juta penderita Epilepsi di dunia (WHO, 2012) Populasi Epilepsi aktif (penderita dengan bangkitan tidak terkontrol atau yang memerlukan pengobatan) → 4-10 per 1.000 penduduk per tahun penduduk di negara berkembang → 6-10 per 1.000 penduduk. Prevalansi Epilepsi pada usia lanjut (>65 tahun) di negara maju > 0,9 % lebih tinggi dari dekade  1-dan 2 kehidupan. Pada usia 75 tahun meningkat 1,5%. Prevalensi Epilepsi di negara berkembang lebih tinggi pada usia dekade 1-2 dibanding pada usia lanjut. Beban biaya pengobatan diperkirakan sebesar USD 344 per tahun. Orang dengan Epilepsi memiliki resiko kematian 3 kali lebih tinggi dibanding populasi normal, SUDEP (Sudden Unexpected Death) mencapai 1, 21/ 1.000 pasien, wanita lebih tinggi dari laki-laki.

Aspek psikosisial yang dapat terjadi bagi penyandang epilepsi, antara lain :

1.      Stigma dan kualitas hidup

Kekeliruan persepsi masyarakat terhadap penyakit epilepsi: kutukan, turunan, kerasukan, menular; kekeliruan perlakuan keluarga terhadap penyandang epilepsi: over-proteksi, penilakan, dimanjakan; kekeliruan perlakuan masyarakat terhadap penyandang  epilepsi : penolakan, direndahkan, diisolasi; keterbatasan penyandang epilepsi akibat penyakit: gangguan kognitif, cacat fisik, pencapaian dalam bidang pendidikan yang rendah, sulit mencari pekerjaan dan bermasyarakat.

2.      Hubungan dengan teman dan lingkungan sekitar

Pemberdayaan penyandang dapat melalui organisasi PERPEI (Pehimpunan Penanggulangan Epilepsi Indonesia).

3.      Pilihan pekerjaan

Disesuaikan dengan jenis, frekuensi dan waktu  timbul bangkitan, resiko kerja yang paling minimal, tidak bekerja sendiri dan dibawah pengawasan, jadwal kerja yang teratur, lingkungan kerja (atasan dan teman kerja) tahu kondisi penyandang epilepsi dan dapat memberikan pertolongan awal dengan baik, maka epilepsi jangan dirahasiakan. Bila memungkinkan perusahaan memfasilitasi asrama bagi pengandang yang dekat dengan tempat kerja. Ada komunikasi yang baik antara atasan dengan dokter yang merawat.

4.      Pilihan jenis olahraga

Dilakukan dilapangan/ gedung olahraga, olahraga yang dilakukan dijalan umum dihindari, pengawasan khusus dan atau alat bantu diperlukan untuk  beberapa jenis olahraga, seperti renang, atletik, senam.

5.      Aspek mengemudi

Penyandang epilepsi didasarkan atas prinsip telah bebas bangkitan minimal 3 tahun berdasarkan surat keterangan dokter spesialis saraf. Larangan mutlak bagi penyandang epilepsi untuk mengoperasikan transportasi umum

Terapi epilepsi bertujuan mengupayakan penyandang epilepsi dapat hidup normal dan tercapainya kualitas hidup optimal untuk penyandang epilepsi sesuai dengan perjalanan penyakit dan disabilitas fisik maupun mental yang dimilikinya. Harapannya adalah “bebas bangkitan, tanpa efek samping”